Tujuh dosa dianggap biasa

Muqoddimah

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatu.
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menyempurnakan untuk kita agama islam ini dan telah mencukupan untuk kita nikmat-Nya, serta meridhoi Islam sebagai agama kita. Shalawat serta salam sejahtera smeoga tetap terlimpah kepada Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wa sallam.
Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak sekali perkara-perkara bersifat haram yang dapat telah menjadi kebiasaan (hal yang lumrah) untuk umat manusia. Sejatinya, bila mengerjakan perkara yang haram akan menimbulkan dosa. Lantas bila kita belum mengetahui hukum asal sebuah perkara, maka ada yang berpendapat bahwa kita tidak akan terkena konsekuensi berdosa. Namun janganlah kita larut dalam ketidak tahuan, karena kewajiban seorang muslim adalah menuntut ilmu syar'i.
Adapun 7 dosa yang dianggap biasa oleh umat islam saat ini


Syirik

Syirik atau menyekutukan Allah adalah sesuatu yang amat diharamkan dan secara mutlak merupakan dosa yang paling besar. Setiap dosa memiliki kemungkinan diampuni oleh Allah, kecuali dosa syirik, ia memerlukan taubat khusus, Allah berfirman,
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya." (Qs. An-Nisa: 48)
Diantara kenyataan syirik yang umum terjadi disebagian besar negara-negara Islam adalah,
Menyembah Kuburan
Kepercayaan Adanya Pengaruh Bintang dan Planet Terhadap Berbagai Kejadian dan Kehidupan Manusia
Kepercayaan terhadap jimat mantera berbau syirik, kalung dari tulang, gelang, logam, dan sebagainya yang penggunaannya sesuai dengan perintah dukun, tukang sihir, atau memang merupakan kepercayaan turun temurun.


Riya dalam Ibadah

Diantara syarat diterimanya amal shalih adalah bersih dari riya dann sesuai sunnah. Orang yang melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain, maka dia terjerumus ke dalam perbuatan syirik kecil dan amalnya menjadi sia-sia, seperti shalat agar dilihat oleh orang lain. Allah berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (Qs. An-Nisa:142)
Barangsiapa melakukan suatu amal shalih, tiba-tiba terbetik dalam hatinya perasaan riya, tetapi ia membenci perasaan tersebut, berusaha melawan dan menyingkirkannya, maka amalannya tetap sah. Berbeda halnya jika ia hanya diam dengan timbulnya perasaan riya, maka menurut sebagian besar uama, amal yang dilakukannya menjadi batal dan sia-sia.


Bersumpah dengan Nama Selain Allah

Allah bersumpah dengan nama apa saja yang Ia kehendaki dari segenap makhlukNya. Sedangkan makhluk, mereka tidak boleh bersumpah dengan nama selain daripada Allah. Namun bila kita saksikan kenyataan sehari-hari, betapa banyak orang yang bersumpah dengan nama selain Allah.
Sumpah adalah salah satu bentuk pengagungan. Karenanya ia tidak layak diberikan melainkan hanya kepada Allah.
"Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama nenek moyang kalian. Barangsiapa hendak bersumpah, maka hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah atau diam." (HR. Bukhari)
Karena itu, tidak boleh bersumpah demi Ka'bah, demi kemuiliaan nabi, para wali, nenek moyang atau anak tertua. Juga lafal yang sering diucapkan kaum muslimin, diantaranya, : Saya berlindung kepada Allah dan kepadamu; Saya bertawakkal kepada Allah dan kepadamu; Ini adalah dari Allah dan darimu; Tak ada lain bagiku selain Allah dan kamu; Dilangit cukup bagiku Allah dan dibumi cukup bagiku kamu; Kalau bukan karena Allah dan fulan; Alam berkehendak lain. Semua hal tersebut adalah haram.


Khalwat (Berduaan) dengan Wanita yang Bukan Mahram

Setan amat giat dalam menebarkan fitnah dan menjerumuskan manusia kepada yang haram. Diantara cara-cara setan dalam menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan keji adalah khalwat dengan wanita yang bukan mahram. Karenanya, syariat Islam menutup pintu tersebut sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam bahwa,
"Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita, kecuali pihak ketiganya adalah setan." (HR. Tirmidzi, 3/474)
Bahkan, Umar bin Abdul Aziz pernah berwasiat kepada Maimun bin Mihran yang wasiatnya itu juga berlaku untuk kita, wasiat tersebut adalah
"Janganlah engkau berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahrammu, walau batinmu berkata bahwa kau mengajarinya Al-Qur'an." (Dari Abu Nu'aym Al Ashbahani)
Berdasarkan petunjuk diatas, maka tidak dibolehkan seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita yang bukan mahram, baik dirumah, di kamar, di kantor atau di mobil.


Wanita Keluar Rumah Dengan Parfum Sehingga Menggoda Laki-Laki

Inilah kebiasaan yang menjadi fenomena umum dikalangan wanita. Keluar rumah dengan menggunakan parfum yang wanginya menjelajahi segala ruang. Hal yang menjadikan laki-laki lebih tergoda karena umpan wewangian yang menghampirinya. Rasulullah Shallallahu Alahi Wa sallam sangat keras memperingatkan masalah tersebut, Beliau bersabda,
"Perempuan manapun yang menggunakan parfum kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya, maka dia adalah seorang pezina." (HR. Ahmad, Shahih al-Jami' no 105.)
Dalam masalah ini, jika telah terlajur memakai parfum, jika hendak keluar rumah, ia diwajibkan mandi terlebih dahulu seperti mandi jinabat, bahkan meski tujuannya ke masjid.
Syariat Islam memberi batasan, parfum wanita Muslimah adalah yang tampak warnanya dan tidakkeras semerbak wanginya.


Memandang Wanita yang Bukan Mahram Dengan Sengaja

Rasulullah Shallallahu Alahi Wa sallam bersabda,
"Adapun zina mata adalah melihat (kepada apa yang diharamkan Allah)." (HR. Ahmad, Shahih al-Jami' no 3047)
Hukum diatas dikecualikan bila melihat wanita untuk keperluan yang diperbolehkan syariat. Misalnya seorang laki-laki memandang kepada wanita yang akan dilamarnya, dengan demikian pula dokter kepada pasiennya.
Hal yang sama juga berlaku untuk wanita. Wanita dilarang memandang kepada laki-laki bukan mahram dengan pandangan yang menyebabkan fitanh. Allah berfirman,
"Dan katakanlah kepada wanita yang beriman 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya'." (Qs. An-Nuur: 31).
Juga haram hukumnya memandang kepada laki-laki yang belum baligh dan laki-laki tampan dengan pandangan syahwat. Haram bagi laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Hal yang sama juga berlaku antar sesama wanita. Dann aurat yang tidak boleh dilihat, tidak boleh pula untuk dipegang meski dengan dilapisi kain.
Termasuk tipu daa setan melihat gambar porno, baik dimajalah, film, televisi, video, internet, dan sebagainya. Sebagian mereka berdalih, semua itu hanyalah sekedar gambar, bukan hakikat yang sebenarnya. Namun bukankah sangat jelas bahwa itu semua berppotensi meruka akhlak?


Tidak Cebok Setelah Buang Air Kecil 

Islam datang dengan membawa peraturan yang semuanya demi kemaslahatan uamt manusia, diantaranya tentang menghilangkan najis. Islam mensyariatkan agar umatnya melakukan istinja' (cebok dengan air) dan istijmar (membersihkan kotoran dengan batu), lalu menerangkan cara melakukannya sehingga tercapai kebersihan yang dimaksud. Bahkan Rasulullah mengabarkan,
"Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil." (HR. Ahmad, Shahih al-Jami' no 1213)
Termasuk tidak cebok setelah buang air kecil adalah orang yang menyudahi hajatnya dengan tergesa-gesa sebelum kencingnya habis, atau sengaja kencing dalam posisi tertentu atau disuatu tempat yang menjadikan percikan air kencing itu mengenainya atau sengaja meninggalkan istinja' dan istijmar, serta tidak teliti dalam melakukannya.
Saat ini, banyak umat Islam yang menyerupai orang-orang kafir dalam masalah kencing. Beberapa kamar kecil hanya dilengkapi dengan bejana air kencing permanen yang menempel ditembok dalam ruangan terbuka. Setiap yang kencing, dengan tanpa malu berdiri dengan disaksikan orang yang lalu lalang keluar masuk kamar mandi. Selesai kencing ia mengangkat pakaiannya dan mengenakannya dalam keadaan najis.
Orang tersebut telah melakukan dua perkara yang diharamkan; pertama, ia tidak menjaga auratnya dari penglihatan manusia, dan kedua, ia tidak ceobk dan membersihkan dari kencingnya.

Khatimah

Wallahu'alam bissawab
Sekian yang kami dapat sampaikan, semoga bermanfaat untuk saya dan kita semua sebagai umat muslim. Semoga Allah selalu menambahkan ilmu pengetahuan yang mutlak kepada saya dan kita semua serta mengampuni dosa-dosa yang telah ktia lakukan selama ini, serta selalu diberi hidayah agar saya dan kita semua bisa menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya. Sesungguhnya kebenaran datang dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam terbebas dari dosa-dosa.

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatu.



Referensi

Al-Qur'anul Kariim 
Muharramat Istahana Biha an-Nas Yajib al-HJadzaru Minha, Muhammad Shalih al-Munajjid, Cetakan IXI, 1433 H.


Liwath (Homoseksual) dalam Islam

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatu

Beberapa hari terakhir ini, yang heboh di media sosial adalah liwath (homoseksual). Awal mula perbuatan liwath ini adalah ketika masa Nabi Luth 'alahis salam sekitar tahun 1800 SM.




Allah subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam qur'an surah Al Ankabut ayat 28 - 29 "Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yangn amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan?"

Allah menghukum kaum Nabi Luth 'alaihis salam dengan empat macam siksaan sekaligus saat itu. Keempat siksaan tersebut adalah dibutakan, dijungkirbalikkan, dihujani dengan batu kerikil, dan dikirimi halilintar.

Adapun dalam syariat Islam, hukuman pelaku liwath dan partnernya, jika pelaku dan partnernya atas dasar suka sama suka adalah di qishas (penggal lehernya dengan pedang). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Barang siapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual), maka bunuhlah pelaku dan partnernya."

Kejam? Yaa sangat kejam, namun sadarkah kita bahwa ini adalah ajaran rahmatan lil aalamiin, jadi pasti ada hikmah yang dibawa. Timbulnya berbagai penyakit yang mematikan -yang pada zaman nenek moyang tak diketahui sebagai hukuman atas merajalelanya kemaksiatan- sebagaimana kita saksikan sekarang, seperti tha'un dan macam-maca penyakit yang mematikan namun belum ditemukan penawarna, seperti penyakit AIDS. Hal itu merupakan salah satu dari sekian banyak hikmah, mengapa Allah subhanahu wa Ta'ala memberikan hukuman yang keras bagi pelaku liwath.

Sekian yang dapat kami tuliskan. Semoga Allah memberi saya dan kita semua hidayah untuk tetap istiqamah berada dijalan agama ini. Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatu

Perkataan Indah yang Menipu di Kampus


Assalamua’alaikum Warahmatullah Wabarakatu.


Maaf kepada teman-teman pembaca, sudah lama saya tidak mengisi artikel-artikel di blog ini. Semoga kita semua diberi hidayah untuk berada di jalan yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa Ta’ala, Rabul Aalamiin.
Setelah satu tahun berada di dunia perkuliahan, ternyata beberapa hal yang menarik serta yang tidak menarik untuk didapatkan. Jujur saja, banyak sekali pengalaman yang berbeda selama di dunia sekolah dengan di dunia kampus/perkuliahan. Mulai dari konflik internal, konflik eksternal, gejolak ideologi, luasnya pemahaman tidak benar, adanya manusia berwajah dua, dan lain-lain. Adapula ungkapan-ungkapan yang indah namun menipu, dan objek-objek dari ungkapan tersebut adalah kepada para mahasiswa-mahasiswa baru.



“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap musuh Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan-perkataan indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Qs. Al An’aam : 112)

Olehnya itu,kali ini saya menulis artikel tentang Zukhrufal Qauli Ghurara (Perkataan Indah tapi Menipu) yang marak di kampus-kampus di negri kita ini, tapi sampelnya dari 2 kampus di daerah saya sendiri, yaitu Makassar. Diantara dua sampel tersebut adalah Universitas Hasanuddin (UNHAS) yang merupakan kampus saya sendiri, dan Universitas Islam Negri (UIN) Alauddin yang merupakan salah satu kampus sahabat.


1. “Kebenaran Itu relatif”

Yaa, kalimat ini menjadi kalimat pertama yang akan saya komentari. Saya sepakat dengan kalimat “Kebenaran itu relatif”. Namun nyatanya, relatif yang saya maksud adalah relatifnya merujuk kepada siapa, tentu kepada pengatur muka bumi ini, Tuhan Semesta Alam, raabbul aalamiin. Sungguh salah ketika orang yang mengartikannya dengan makna “Tidak semua tindakan kita itu dianggap benar”, karena itu dari sudut pandang manusia. Jadi ketika anda/siapapun dari kita merasa tindakan kita sesuai dengan yang disyariatkan/dibenarkan oleh Tuhan Semesta Alam, maka patutlah kita untuk merasa benar. Namun melencengnya makna dari kalimat ini ketika kita melihat relatifnya yaitu relatif terhadap manusia.
Pertanyaan yang tepat untuk orang yang berkata demikian, apakah kebenaran itu relatif benar atau mutlak benar?

Jika orang itu menjawab relatif benar, maka dia sendiri akan pusing apakah doktrin bahwa kebenaran itu relatif bersifat benar atau tidak.
Jika orang itu menjawab mutlak benar, berarti dia lupa bahwa baru-baru saja dia mengatakan kebenaran itu relatif.

2. “Jangan bawa agama di sini, kita semua disini sama!”

Sungguh ironis orang yang tunduk dan patuh ketika di gertak dengan kalimat ini. Kalimat ini menganjurkan kepada para pendengarnya untuk melepaskan agamanya untuk beberapa waktu. Namun seperti yang kita ketahui bersama, bahwa agama sifatnya universal (menyeluruh). Dalam agama Islam, kita tidak hanya ritual sholat, mengaji, dan berpuasa, tapi kita juga memiliki adab-adab yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga kita telah memiliki aturan dari awal kita bangun tidur hingga kita tertidur kembali.

3. “Semua agama sama, cuma cara beribadahnya yang berbeda!”

Orang yang mengatakan ini adalah kaum pluralisme (orang yang menyamakan agama) yang minim pengetahuan, baik tentang agamanya sendiri maupun tentang agama selain agamanya. Karena melihat dari redaksi kalimatnya, Orang ini hanya melihat dari segi ibadah, tidak dari segi selain ibadah. Kemudian, pengetahuan Orang ini tentang agama sangatlah minim. Sejatinya orang yang mengatakan demikian adalah orang yang sedang bingung dalam mencari kebenaran.

Dalam agama Islam, banyak ayat yang bisa kita gunakan landasan ke-Tuhanan, diantaranya Qs Al Ikhlas,menjelaskan bahwa Tuhan itu satu, Maha Esa, bukan dua ataupun lebih. Lalu agama Islam juga mengajarkan bahwa Tuhan itu tidak beranak dan diperanakkan. Jadi siapa saja yang ingkar terhadap tersebut, maka dia telah kufur dari agama Islam.  Dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang menolak Pluralisme agama.

Begitu pula dengan agama lain, memiliki ajaran yang bersebrangan dengan ajaran Islam, sehingga jika mereka membenarkan agama Islam, maka mereka telah kufur dari agama mereka sendiri. Jadi sejatinya pluralisme adalah ajaran yang menyudutkan sikap pluralisme itu sendiri, karena jika kita membenarkan pihak lain, sama saja kita mengafirkan diri dari agama sendiri padahal sejatinya pluralisme menganggap bahwa agama kita dan agama orang lain itu sama.

Contoh kasus lain adalah antara Hindu Yahudi dan Budha, kaum Hinduadalah kaum yang  mempertuhankan sapi sedangkan kaum Yahudi berkurban dengan sapi, sedangkan kaum Budha beranggapan bahwa menyembelih hewan termasuk dalam kezhaliman.

4. “Ikutilah kami, karena kami lebih berpengalaman dibandingkan denganmu!”

Yang berkata demikian tentu saja adalah orang yang lebih tua, yaitu senior. Sebelumnya, disini saya menekankan bahwa tidak ada yang salah akrab dan bergaul dengan senior, saya sendiri termasuk salah satu orang yang berusaha mendekati kakak-kakak senior saya, baik satu fakultas maupun beda fakultas, karena ada beberapa hal bermanfaat yang bisa didapatkan di senior. Dan juga, beberapa teman kajian saya itu senior-senior, bahkan ada yang lebih tua 4 atau 5 semester dari saya, di tempat kajian saya yang lain ada pula yang telah lulus, telah memiliki pekerjaan, telah menikah, bahkan ada pula mahasiswa pascasarjana baik satu kampus maupun beda kampus.

Namun yang salah biasanya adalah senior memaksakan kehendaknya untuk diikuti oleh junior, atau sebaliknya junior yang ikut-ikutan kepada senior tapi tidak bersikap kritis dalam hal yang di contohkan oleh seniornya. 

Iming-iming senior memang luar biasa, namun disitulah tempat kebablasan sebagai senior, yaitu bersikap sombong. Salah seorang ustad yang merupakan alumni kampus saya sendiri pernah berkata “Suatu saat anda akan menjadi senior yang biasanya di ikuti, olehnya ajarilah adikmu untuk tidak sembarang mengikuti dan jadilah contoh yang baik”. 

5. “Janganlah taklid buta, tapi bersikap kritislah!”

Jargon-jargon ini biasa mengajarkan kepada para mahasiswa untuk tidak taklid buta kepada agama dan keyakinan mereka sendiri. Orang yang berjargon seperti ini mengkritisi ajaran-ajaran dari agama mereka sendiri, dan fatalnya kebanyakan penegak jargon ini adalah umat islam itu sendiri yang merupakan para akademisi-akademisi kampus. 

Saya sepakat bila kita tidak taklid buta dan harus bersikap kritis, tapi tidak digunakan untuk mendesakralisasikan agama saya sendiri. Yang parah apabila ada yang sudah mengkritisi hadits-hadits dan berusaha mulai menafsirkan serta mengkritisi al-qur’an itu sendiri layaknya mereka seorang muhaddits ataupun mufassir. Padahal seperti yang dipahami bersama bahwa orang  menafsirkan ayat-ayat Allah ataupun hadits tidak sembarang, ada kaidah yang perlu dipahami.

Contoh kasus pernah Saya mengantar teman (sebut saja Fulan, dia laki-laki) ke kosnya teman (sebut saja Fulana, dia perempuan). Sampai depan kosnya, ada salah seorang teman laki-laki yang berada di kamar kos Fulana untuk menyuruh saya masuk dan mengajarkannya sebuah materi. Karena Saya tahu bahwa disitu ada beberapa perempuan dan itu kamar perempuan, saya menolak untuk membantunya. Teman laki-laki yang menyuruh saya tadipun berkata “Tenang Imam kalau gabung begini tidak apa-apa selama tidak disentuh/menyentuh perempuan”. Saya hanya terdiam dan dalam hati saya sangat kesal karena berikhtilat (bercampur baur) dianggap tidak apa-apa, naudzubilla miin dzaliik. Sedangkan para ulama-ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa hukum asal berikhtilat adalah haram.

Toh jargon ini mengajak para akademisi untuk mengkritisi ajaran Islam, bahkan orang-orang diluar islampun diajak untuk mengkritisi Islam. Sehingga ke depannya mereka akan ditawari buku-buku yang berisikan kritisan terhadap Islam dimana buku tersebut merupakan tulisan dari kaum barat yang jelas-jelas memusuhi Islam, naudzubillah miin dzalik. Sekedar saran dari saya, kalau kita ingin mempelajari Islam, pelajarilah dari sudut pandang agama itu sendiri, jangan pelajari dari sudut pandang pembenci agama itu sendiri, karena orang yang membenci islam biasanya memaparkan argumen yang menguntungkan satu atau dua pihak saja, sedangkan ajaran islam itu rahmatan lil aalamiin (rahmat bagi seluruh alam) olehnya itu pasti menguntungkan seluruh umat manusia, cepat atau lambat.

6. “Anda sudah Mahasiswa, harusnya anda sudah bisa bersikap dewasa!”

Kalimat ini adalah ajakan kepada para mahasiswa untuk selalu membenarkan segala aktivitanya, baik itu benar ataupun salah. Kalimat ini juga ajakan kepada para mahasiswa untuk selalu menjadi seorang yang berani, dan kalaupun tindakan yang diberani-kan tersebut sejatinya salah dari segi syariat, tetap saja dibenarkan karena alasan “mereka telah berstatus mahasiswa”. Memangnya ketika kita telah mahasiswa, maka Allah telah memberikan kita sifat ma’sum (setiap tindakan akan di filter oleh Allah subhanahu wa Ta’ala)? Tentu tidak!

Salah seorang dosen pengajar mata kuliah Pendidikan Agama Islam pernah menyampaikan dalam ceramahnya bahwa “Setiap pertemuan pertama saya, saya selalu mengecek jumlah mahasiswa yang sholatnya tidak bolong-bolong. Dari hasil, hanya sekitar 18-an persen dari seluruh jumlah mahasiswa  yang sholatnya lengkap”. Sungguh ironis manusia yang selalu membanggakan gelarnya, baik itu sebagai mahasiswa ataupun gelar lain, tapi kewajiban setelah dia berimannya (termasuk sholat) dia lupakan.

Tidak hanya itu, mereka juga meninggikan diri mereka. Ironisnya, ada mahasiswa yang melakukan aksi (baca : demonstrasi) dengan menghina koruptor sedangkan mereka sendiri masih melakukan tindak korupsi kecil (baca : nyontek). Padahal tahukah kalian semua, salah satu sifat yang dapat melencengkan aqidah umat islam adalah dengan menyontek, karena menyontek kepada orang lain yang dalam aturannya tidak di izinkan berarti melencengkan sikap raja’ (harap) yang seharusnya kita berharap hanya kepada Allah, tapi ternyata kita malah melanggar aturan ujian dan berharap kepada teman.


Sebenarnya masih ada beberapa hal yang dapat kami tuliskan disini, namun sampai disini perjumpaan kita. Semoga ini bermanfaat untuk saya dan para pembaca ajma’in, semoga Allah memberikan saya dan kita semua hidayah untuk terus berada di jalan yang di ridhoi oleh-Nya. Kurang dan lebihnya mohon di maafkan, kebenaran hanya datang dari Allah dan kesalahan sejatinya datang dari saya manusia biasa.

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatu.